hewan

Ketentuan Hewan Untuk Aqiqah

Aqiqah tak sahih kecuali dengan kambing. Hal ini berlandaskan beberapa riwayat, di antaranya hadits,

“Bagi anak laki-laki (aqiqah) dua kambing yang sepadan dan bagi anak perempuan satu kambing.” (HR. at- Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Maksud “yang sepadan” adalah sepadan dari sisi umur dan bagusnya. (Faidhul Qadir dan Nailul Authar 5/158)

Terkandung atsar bahwa ketika lahir anak laki-laki Abdurrahman bin Abi Bakr ash-Shiddiq maka dikatakan kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ummul mukminin, “Aqiqahilah ia dengan (menyembelih) unta!” Aisyah berfirman, “Aku berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi, (seperti) apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak (yaitu) dua kambing yang sepadan.” (HR. ath- Thahawi dan al-Baihaqi. Asy-Syaikhal-Albani berfirman dalam al-Irwa’ bahwa sanadnya hasan 4/390)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berfirman,

“Menurut saya, tak sah aqiqah selain dengan kambing.” (Fathul Bari 9/593)

Akan hal atsar yang datang dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa ia mengaqiqahi anaknya dengan unta, atsar ini memang sahih, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dan ath-Thabarani dalam al-Kabir. Akan tetapi, sahabat Anas radhiallahu ‘anhu di sini tak menyebutkan apakah itu adalah perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ucapannya atau bukan. Jika demikian, kita mengambil yang jelas dari ucapan dan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu aqiqah dengan menyembelih kambing.

Akan hal hadits riwayat ath- Thabarani (yang artinya), “Barang siapa dianugerahi anak laki-laki hendaklah ia mengaqiqahinya dengan unta, sapi, dan kambing.” (al-Mu’jam ash-Shaghir: 45) dinyatakan maudhu’ (palsu) oleh ulama. Hadits di atas memuat banyak cacat pada sanadnya, dan yang paling menonjol adalah adanya rawi bernama Mas’ud bin al-Yasa. Al-Hafizh al-Haitsami rahimahullah berfirman, “Dia pendusta.” (lihat Irwa’ul Ghalil 4/393—394)

Menurut sebagian ulama, kambing untuk aqiqah memiliki kriteria seperti kambing yang sah untuk kurban, yaitu telah berumur setahun, tak buta, tak kurus kering, tak pincang, tak sakit, tak diperbolehkan dijual sedikit pun dari daging dan kulitnya, serta diperbolehkan (akan tetapi makruh) dipatahkan tulangnya. Orang yang mengaqiqahi diperbolehkan makan darinya dan menyedekahkannya. (Tuhfatul Maudud hlm. 53)