Untitled

Pengertian Aqiqah

 

Aqiqah ialah sembelihan hewan untuk bayi yang baru lahir baik laki-laki mapun perempuan di hari ketujuh dari hari kelahirannya.

Adat Aqiqah dikalangan ahli fiqih terjadi ikhtilaf yang perbedaan tersebut disebabkan perbedaan dalam memahami mafhum hadits. Golongan Zhahiriyah memandang ‘aqiqah itu suatu kewajiban, sedangkan Imam Hanafi memandang ‘aqiqah itu tidak fardhu tidak pula sunah akan tetapi tathawwu (suka rela), akan tetapi jumhur bertaksiran bahwa ‘aqiqah ialah sunah. Kontek hadits yang menunjukkan kewajiban ialah sebagai halnya yang diriwayatkan oleh Samurah ra. Sebagai berikut: “Tiap-tiap anak tergadai pada ‘aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ketujuhnya dan kotoran dibersihkan daripadanya.” Sedangkan kontek hadits yang menunjukkan sunah ialah sebagai berikut: “Aku tidak suka kenakalan (kenakalan anak terhadap orang tuanya). Barang siapa dianugerahi anak (bayi) kemudian ia bermaksud menyembelih hewan untuk anaknya, bermaksudnya diperbuatnya.”

Menurut jumhur, hewan yang biasa dipakai untuk ‘aqiqah ialah hewan yang bisa dipakai untuk qurban. Imam Malik lebih suka memakai kambing dan domba, sesuai taksirannya tentang qurban. Adapun ulama-ulama yang lain tetap memegangi hukum pokok, yaitu unta lebih utama dari sapi, dan sapi lebih utama dari kambing.

Tentang bilangan hewan untuk ‘aqiqah, para ulama memperselisihkannya. Imam Malik bertaksiran baik untuk laki-laki maupun perempuan ialah satu kambing. Sedangkan Imam Syafi’i, Abu Tsaur, Abu Dawud dan Ahmad bertaksiran untuk laki-laki dua ekor kambing dan untuk perempuan satu ekor kambing.

Para ulama berselisih taksiran mengenai waktu penyembelihan hewan aqiqah. Menurut Imam Malik, jika bayi itu dilahirkan siang hari maka siangnya itu tidak dihitung dalam bilangan tujuh hari, sedangkan menurut Abdul Malik ibn al-Madjassum, bahwa siang harinya dihitung. Manurut Imam al-Qasim dalam kitabnya “Al-Atabiyyah” menerangkan jika penyembelihan ‘aqiqah dilakukan pada malam hari maka tidak boleh.

Ulama-ulama Maliki berbeda-beda taksiran tentang awal waktu yang mencukupi. Menurut satu taksiran bahwa awal waktu tersebut ialah waktu dhuha. Menurut taksiran yang lain awal waktu tersebut ialah seterlepas fajar sesuai dengan taksiran Imam Malik sendiri tentang penyembelihan hadyu (qurban). Dan terlepas barang tentu, bagi fuqaha yang memperbolehkan berqurban di malam hari maka ia memperbolehkan ‘aqiqah di malam hari pula. Ada taksiran lain yang mengatakan bahwa penyembelihan dapat dilangsungkan pada hari ke tujuh, jika tidak maka pada hari keempat belas, dan jika yang demikian masih tidak memungkinkan maka dapat dilakukan kapan saja. Sebagai halnya yang diriwayatkan oleh Baihaqi: “Disembelih pada hari yang ketujuh dan hari yang keempat belas dan pada kedua puluh satu.” Akan tetapi para ulama bersepakat hari yang paling afdhal (lebih utama) untuk penyembelihan ‘aqiqah ialah hari yang ketujuh.

Sebagai halnya daging qurban, daging ‘aqiqah pun dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Daging tersebut agar dimasak terlebih dahulu karena hal ini ialah sunah, kemudian disedekahkan kepada fakir miskin atau tetangga-tetangganya. Bagi yang memperbuat ‘aqiqah boleh memakan sedikit dari daging ‘aqiqah sebagai halnya qurban.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *