hukum aqiqah

Hukum Aqiqah

Pendapat Ulama Mazhab tentang Hukum Aqiqah

Sudah menjadi pengetahuan bersama, dalam persoalan fikih akan sering dijumpai perbedaan pendapat dari kalangan para ulama fikih, terutama ulama fikih empat Mazhab. Begitu juga dalam permasalahan hukum aqiqah. Bagi seorang muslim biasa, dengan berpegang pada pendapat yang diamalkan oleh mayoritas ulama fikih insya Allah akan lebih menyelamatkan dari kekeliruan.

Para ulama fikih mazhab Syafi’I dan pendapat masyhur Mazhab Hanbali menyatakan bahwa hukum aqiqah yaitu sunnah muakkadah.

Mereka berdalil dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ-صلى الله عليه وسلم-قَالَ «كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى»

 

Dari Samurah bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya lalu diberi nama.” (HR. Abu Daud no. 2838, An-Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 

Sementara Mazhab Hanafi berpendapat aqiqah dibolehkan pada hari ketujuh kelahiran anak, setelah memberi nama, mencukur rambut kepala, dan membagikan sedekah. Di antara ulama mereka juga ada yang mengatakan, “Anak tersebut diaqiqahi sebagai ibadah tambahan (Tathawwu’) dengan niat bersyukur atas nikmat Allah.” (Al-Bada i’, 5/59)

 

Sedangkan mazhab Maliki berpendapat, hukum aqiqah mandub. Hukum Mandub derajatnya berada di bawah hukum sunnah.

 

Adapun ulama fikih mazhab zahiri semisal Daud bin Ali dan Ibnu Hazm, keduanya berpendapat bahwa hukum aqiqah adalah wajib. (Al-Muhalla, 6/234. Al-Majmu’, 8/447. Al-Mughni, 9/459) namun, pendapat ini tidak banyak diamalkan oleh para ulama.

 

Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa pendapat yang menyatakan hukum aqiqah itu hukumnya sunnah muakkadah adalah pendapat yang banyak dipegang oleh mayoritas ulama mazhab.