tujuan

Tujuan Dan Manfaat Aqiqah

Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan menyerupai nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka percaya tatkala perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Serta perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan serta perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” (QS al-Baqarah [2]: 26).

Dari keterangan ayat di atas, jelas tatkala perihal itu untuk menilai umat manusia, apakah serta perumpamaan itu mereka menjadi orang yang bersyukur atau kufur (ingkar).

Dalam ayat lain, Allah menegaskan tatkala dalam penciptaan langit dan bumi, sesungguhnya termampu tanda-tanda bagi orang yang berpikir. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini serta sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imrah [3]: 191).

Pun demikian perihalnya serta tujuan aqiqah untuk menyembelih hewan saat kelahiran anak. Sebagai bagian dari fikih ibadah, aqiqah terkandung banyak hikmah. Menurut Syekh Abdullah Nashih Ulwan di kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam, aqiqah memiliki beberapa hikmah.

Pertama tama, menghidupi sunah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabi Ibrahim AS, tatkala Allah SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

Kedua, dalam aqiqah terkandung unsur perlindungan dari setan yang mampu mengganggu anak yang terlahir itu, dan ini sesuai serta makna hadis, yang artinya, “Setiap anak itu tergadai serta aqiqahnya.” Sehingga, anak yang usai ditunaikan aqiqahnya insya Allah lebih terlindung dari gangguan setan yang sering mengganggu anak-anak. Perihal inilah yang dimaksud oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah “tatkala lepasnya dia dari setan tergadai oleh aqiqahnya”.

Ketiga, aqiqah merupakan penebusan bagi anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak pada hari akhir, sebagaimana Imam Ahmad mengatakan, “Dia tergadai dari memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya (serta aqiqahnya).”

Keempat, merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang dianugerahkan Allah SWT serta lahirnya sang anak.

Kelima, aqiqah sebagai tempat menunjukkan rasa gembira dalam melaksanakan syariat Islam dan bertambahnya keturunan mukmin yang akan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

Keenam, aqiqah mampu memperkuat ukhuwah (persaudaraan) di antara masyarakat. Ketujuh, merupakan tempat untuk merealisasikan prinsip-prinsip keadilan sosial dan menghapuskan gejala kemiskinan di dalam masyarakat. Misalnya, serta adanya daging yang dikirim kepada fakir miskin.

Syukur nikmat

KH Muhammad Sholikhin pada bukunya tertulis “Mukjizat dan Misteri Lima Rukun Islam: Menjawab Tantangan Zaman” mengungkapkan, dalam ibadah aqiqah terkandung unsur tarbiyah (pendidikan), yakni mendidik ketakwaan anak agar menjadi orang yang dekat (taqarrub) kepada Allah, serta menghilangkan sifat-sifat kebinatangan pada diri anak, karena manusia pada umumnya juga memiliki sifat-sifat hewaniah yang harus dihilangkan serta norma etika keagamaan.

Di samping itu, aqiqah juga bertujuan untuk mendidik anak menjadi hamba yang dekat serta Allah SWT. Sebab, aqiqah itu sendiri adalah tindakan berkurban. Perbedaannya serta qurab (kurban) pada hari Idul Adha terletak pada syariatnya.

Jika kurban pada bulan Dzulhijjah disyariatkan sehubungan serta peristiwa haji, dan tertentu bagi yang mampu serta memiliki kehendak yang sama serta prosesi haji, sedangkan aqiqah adalah kurban hewan untuk diri pribadi sebagai penebusan terhadap jiwa anak yang baru lahir,”

Dan secara khusus, tujuan dan manfaat aqiqah adalah merupakan bentuk syukur atas anugerah yang diberikan Allah kepada seorang Muslim, serta kehadiran buah hati dalam kehidupan keluarganya